Listrik dan martabat bangsa

Listrik adalah sebuah kebutuhan vital yang diperlukan dalam dunia yang maju sekarang ini. Dengan semakin banyaknya alat-alat yang mempermudah kerja manusia yang membutuhkan listrik otomatis kebutuhan listrik pun akan semakin meningkat. Begitu pula dengan semakin majunya cara berfikir orang, akan semakin banyak macam ragamnya alat-alat yang akan menunjang kerja-kerja manusia.

Contohnya adalah kebutuhan listrik yang ditimbulkan karena semakin banyaknya orang mengakses internet atau memakai telepon genggam. Begitu pula dengan semakin berkembangnya usaha atau bisnis seseorang maka otomatis kebutuhan akan listrik akan semakin meningkat. Seperti contohnya adalah negara Jepang.
Kebutuhan akan listrik terus meningkat dengan semakin majunya dunia industri atau usaha. Demikian juga dengan dikeluarkannya produk-produk elektronik baru, maka semakin mendorong akan kebutuhan listrik.

Akan tetapi ada sesuatu yang aneh di Indonesia. Listrik yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara alias PLN tidak dapat menggenjot produksi kapasitas listrik yang dapat disediakan untuk masyarakatnya. Sudah tahu dengan pasti bahwa kebutuhan akan listrik setiap tahun akan menanjak terus, akan tetapi tidak dibarengi dengan usaha untuk meningkatkan produksi listriknya. Alih-alih meningkatkan kapasitas produksinya, yang sering terdengar adalah matinya pembangkit listrik karena adanya perbaikan.
Sebagai sebuah instansi yang mempunyai kewajiban untuk mensuplai produksi listrik ke masyarakat secara monopoli, maka sudah merupakan kewajiban tunggal bagi PLN untuk menyediakan listrik yang memadai.

Sekelas menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro pun ketika memberikan komentar tentang pemadaman listrik di Jakarta dengan lugunya mengatakan, “Jangan panik seolah kita ada pemadaman seterusnya. Sebenarnya yang terjadi itu kan karena suplai gas terganggu akibat ada perbaikan”.
Sangat tidak berbudayanya bangsa ini karena mempunyai pemimpin yang tidak memiliki sense of crisis.
Jakarta Japan Club(JJC), organisasi pengusaha-pengusaha Jepang di Indonesia pun mengirimkan surat ancaman hengkang dari Indonesia.
Berapa besar kerugian suatu industri yang timbul dengan pemadaman listrik selama satu jam ? atau mungkin satu menit sekalipun.

PT Panasonic Lighting Indonesia, perusahaan lampu asal Jepang, mengalami kerugian sekitar 1 miliar setiap pamadaman 1 jam, padahal setiap bulan mereka mengalami empat kali pemadaman.
Kerugian 1 miliar ini belum dihitung oleh kerugian-kerugian yang akan timbul karena target produksi yang akan timbul dan terlambatnya proses produksi yang akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan pasar.
Bagaimana kalau PT yang mempunyai buruh sekitar 3000 orang ini hengkang ke luar negeri ? Tentunya dampaknya akan besar sekali.
Akan tetapi seperti biasa, para menteri dan birokrat pemerintahan akan menyambutnya dengan kepala dingin alias tidak ada respon. Naif memang, martabat bangsa ini semakin terpuruk dengan pemimpin negeri seperti ini.

Kiriman surat ancaman JCC yang beranggotakan 400 perusahaan Jepang ini kalau tidak ditanggapi dengan serius, maka semakin runyamlah nasib bangsa ini. Berangnya Menteri Perindustrian Fahmi Idris kepada PLN tidaklah cukup mengembalikan kepercayaan JCC kepada pemerintah Indonesia.
Di manakah SBY sekarang ? atau masih belum paham juga apa yang sedang terjadi di dunia energi tanah air ini ?
Sebagai tuan rumah yang bermartabat, sudah tentu menjamu para tamu dengan jamuan yang baik adalah perlu.

bookmark tulisan ini : These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • Slashdot
  • Technorati

Artikel Terkait

Isi Komentar

*

Anti-spam image