Mohon maaf apabila saya salah

Sering saya menjumpai banyak tulisan email yang diakhiri dengan kalimat pelembut “Mohon maaf apabila saya salah” atau “Maaf kalau pendapat saya salah”.
Padahal di awal kalimat sebelumnya dia tuangkan kalimat demi kalimat yang mengandung pernyataan-pernyataan yang menjadikan orang lain merasa tidak nyaman dan enjoy dengannya.

Kalimat demi kalimat yang tidak baik yang dihasilkan dari buah berfikir yang tidak arif dan bijak, yang tersusun menjadi sebuah email bagaikan tembakan peluru liar yang tidak berdasar dan bermakna. Dengan tuduhan atau pernyataan yang terkadang tidak berlandaskan argumen atau dasar berpijak yang kuat. Tidak mempunyai dasar berfikir yang arif dan bijak.

Kalau isi dan kalimat yang ada di email kita adalah seperti peluru liar tak berarah, maka ketahuilah bahwa kalimat “Mohon maaf apabila saya salah” atau “Maaf kalau pendapat saya salah” tidak akan memberikan kebaikan atau kenyamanan sedikit pun kepada lawan bicara dibandingkan kalimat-kalimat yang tidak bersahabat yang kita munculkan sebelum kalimat ini.
Kalau begitu apa fungsi kalimat-kalimat ini di akhir email ? Tidak ada sama sekali.

Dapat dimaklumi ! Karena orang menulis email biasanya tidak lebih dari 10 menit, karena itu terkadang tulisannya pun sesuai dengan mood yang dia miliki saat itu.
Tapi sadarkah kita bahwa tulisan kita akan mempengaruhi jalan fikiran dan perasaan orang lain ? Pantaskan kita menulis di akhir email kita dengan kalimat “Mohon maaf apabila saya salah” atau “Maaf kalau pendapat saya salah” ? Sedangkan kalimat demi kalimat kita di email terlihat mewakili dua kata yang akan tergambar di benak pembaca email kita, “Anda Menuduh!!”

Saya bukan ahli bahasa dan psikologi, akan tetapi saya adalah orang yang mempunyai bahasa dan psikolog. Terus berusaha semaksimal mungkin menuangkan buah fikiran dengan kata-kata yang baik dan lebih baik. Saya bukan ahli dalam mengatur kata-kata, memadukan buah fikiran dan buah pena dengan serasi sehingga akan menimbulkan makna yang lebih baik, yang mudah ditangkap lawan bicara. Saya sadar bahwa tulisan saya akan membawa situasi yang lain apabila tertangkap makna yang lain dengan apa yang saya maksudkan, karena itu sudah sewajarnya apabila saya berhati-hati dalam menulis email.

Sebelum saya kirim email, terlebih dahulu saya baca berulang-ulang dengan posisi sebagai lawan bicara saya di email. Saya gambarkan dan bayangkan bagaimana mimik muka atau perasaan atau fikiran yang akan timbul atau terjadi dengan isi email yang saya buat. Dampak email sangat kuat bagi seseorang walaupun itu adalah sebuah kata sekalipun. Dan sudah pasti membayangkan balasan email seperti apa yang kira-kira akan saya dapatkan adalah salah satu alasan kenapa kita harus memperhatikan isi email ini dengan baik.

Karena terlalu seringnya berfikir seperti itu, terkadang email yang saya buat dengan matang dan cukup lama saya batalkan, hanya karena kekhawatiran bahwa email saya adalah email yang tidak bermanfaat. Atau malah akan menjadikan bumerang bagi diri saya sendiri, sehingga email saya akan merusak hubungan persaudaraan yang telah lama dan sulit saya ciptakan.

Dalam surat Fushilat, Allah berfirman, “Idfaq billati hiya ahsan …” Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Sebagai seorang muslim, sudah pasti pegangan si muslim adalah Alquran dan sunnah Nabi. Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana menyuruh kita untuk menolak segala sesuatu dengan cara yang lebih baik ? kenapa ? Barangkali karena sebagian besar manusia menolak kejahatan dengan cara yang tidak lebih baik.

Berhati-hatilah !!

bookmark tulisan ini : These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • Slashdot
  • Technorati

Artikel Terkait

One Response to “Mohon maaf apabila saya salah”

  1. Terkadang saya juga menulis email seperti itu, terima kasih atas artikelnya.

Isi Komentar

*

Anti-spam image