Mengais Inspirasi dari Sebuah Buku

Oleh : Ardian Perdana Putra
Sebuah tulisan tentang buku-buku yang memengaruhi pemikiran dan kehidupan

“Aku menulis, maka aku ada!”

Sejarah telah mencatat lahirnya jutaan karya tulisan sepanjang perjalanan peradaban manusia. Sebagian darinya diingat hingga saat ini karena isinya bermanfaat dan mempengaruhi banyak orang yang membacanya. Paling tidak, jika tidak membaca langsung tulisannya, maka orang mungkin saja menemukan penggalan kata-kata yang ternukil dalam karya-karya orang dimasa sesudahnya. Mungkin dapat menjadi contoh perkataan Julius Caesar ‘Veni Vidi Vici’ (Aku lihat, aku datang, dan aku menang) yang menjadi inspirasi banyak orang tentang perjuangan dan keberhasilan. Atau sekian banyak ucapan Rasulullah dan testimoni para sahabat tentang kehidupan sang nabi akhir zaman yang menjadi panduan bagi jutaan umat muslim sejak awal lahirnya peradaban islam hingga masa sekarang ini.

Dua contoh tadi dan entah berapa banyak lagi contoh lainnya, menjadi catatan yang memperkaya sejarah karena orang di masa tersebut merekamnya dalam media tulisan. Sehingga tidak diragukan lagi, karya literatur adalah fondasi peradaban, karena suatu bangsa akan diingat hingga hitungan abad saat mereka berhasil memelihara khazanah kepustakaan yang merekam sepak terjang sejarah peradaban bangsa tersebut. Memang, rekaman sejarah tadi amat mungkin mengalami distorsi karena subyektifitas dari setiap penulisnya, namun semakin banyak versi sejarah yang tersedia justru akan memperkaya sejarah bangsa tersebut.

Sebagaimana kisah seorang Iskandar Agung yang menaklukkan Asia hingga semenanjung India. Tidak saja heroisme serta citra baik, tetapi juga kebengisan dan aib-aibnya yang tersebar menjadi legenda dalam peradaban berbagai suku bangsa dari ujung tenggara Eropa hingga Semenanjung Melayu dan bahkan Tanah Jawa. Ia, yang oleh banyak penafsir dan sejarawan telah ditasbihkan sebagai sosok Dzulqarnain yang disebut-sebut dalam serangkaian ayat Al Quran telah dibesarkan oleh sejarah yang diwariskan turun-menurun. Menarik untuk dicermati kemudian, saat beberapa tahun kebelakang ada seorang ilmuwan Arab yang menyimpulkan hal yang sama sekali bertolak belakang dari penafsiran Ayat tersebut pada umumnya. Ilmuwan tersebut menemukan bahwa sosok Dzulqarnain yang disebut dalam Al Quran, jauh lebih mirip dengan sosok seorang Firaun yang disebut-sebut menjadi penentang dari keberhalaan dan politheisme bangsanya, yaitu Tut Anakh Amon VI atau disebut pula Akhen Aton.

Terlepas dari benar atau salahnya, penelitian yang kemudian dibukukan ini merupakan sebuah karya yang fantastik. Jika benar, berarti ini merupakan temuan yang akan merubah total wajah sejarah penafsiran ayat tersebut. Namun jika ternyata salah, atau dikemudian hari ditemukan bahwa argumennya tersebut terlalu lemah, maka ini akan memicu penelitian-penelitian lainnya untuk menguji kesahihan penafsiran ayat tersebut. Tapi bagaimana pun, buku ini amat mengesankan bagi saya. Sosok sang ilmuwan yang dalam catatannya menyebutkan bahwa penelitiannya tersebut dilakukan mulai dari Mesir hingga ke Pasifik (Kepulauan Kiribati) telah menghabiskan sedemikian banyak waktu hidupnya serta dana yang sedemikian banyak untuk meneliti sesuatu yang tidak secara langsung berkorelasi dengan kehidupannya secara manusiawi. Ini merupakan simbol dari suatu kecintaan yang begitu dalam terhadap ilmu pengetahuan. Ia ibarat ‘Einstein atau Edison-nya Penafsiran Sejarah Berbasis Al Quran’. Sayangnya saya lupa judul persis dan penerbitnya.

Buku lain yang amat inspiratif dan menggugah saya adalah sebuah buku tentang shirah Nabi Muhammad SAW. Namun tidak seperti kebanyakan buku riwayat Rasulullah SAW lainnya, buku ini lebih mengena dihati saya karena membahas perikehidupan Nabi dari sudut pandang serta dengan metodologi yang berbeda. Buku tersebut adalah ‘Manhaj Haraki’, yang versi Indonesianya diterbitkan oleh Rabbani Press. Keistimewaan dari ‘Manhaj Haraki’ adalah isinya yang menggambarkan perjalanan dakwah Rasulullah sejak turunnya ayat pertama hingga wafatnya sebagai sebuah bahasan hipotetik tentang tahapan dan strategi yang terencana secara rapih. Buku ini secara cerdas membahas kehidupan Rasulullah tidak hanya sebagai urutan kejadian atau semacam ‘kisah pengantar tidur’ semata, tetapi juga kajian yang dalam tentang dibalik semua kejadian tersebut dan nilai yang dapat diambil oleh para Da’i dalam menghadapi tantangan dakwah aktual. Dalam pendapat saya, buku ini amat layak dibaca oleh mereka yang telah tergerak untuk menempatkan ideologi islam sebagai sebuah jalan hidup dan memutuskan untuk mendedikasikan sisa hidupnya untuk dakwah Islam.

Adapun buku karya lokal yang mengena di hati saya adalah ‘Edensor’, salah satu dari rangkaian tetralogi ‘Laskar Pelangi’ yang diterbitkan oleh salah satu anak perusahaan Mizan, Bentang Pustaka. Sebenarnya saya amat suka ketiga ~yang sudah saya baca~ buku pertama ‘Laskar Pelangi’, namun jika harus memilih, maka yang paling meninggalkan kesan adalah Edensor. Gaya bahasa Andrea Hirata yang begitu melayu, mengharu biru, melankolis-hiperbolik hingga pada taraf yang kata anak sekarang lebai (berlebih-lebihan) justru menjadi daya tarik tersendiri dari karya-karyanya. Buku-bukunya berhasil menyihir saya dan mungkin jutaan pembaca lainnya dalam suatu ruang imajinasi yang amat berwarna. Buku-bukunya mampu menggerakkan orang untuk hanyut dalam kesuraman hidup seorang Lintang (Laskar Pelangi), romantisme cinta yang absurd dari seorang Arai pada Zakiah Nurmala (Sang Pemimpi dan Edensor), ulah-usil masa kecil seorang Ikal dimasa kecil yang membuat namanya berganti berkali-kali (Edensor), atau bahkan kegigihan seorang Bu Mus yang kini begitu melegenda di banyak kepala para guru yang tergugah. Novel ini membuat imajinasi kita berlari-lari mengejar naik-turun ekspresi emosional Andrea dalam canda-canda satirisnya di satu bagian namun merenung begitu dalam memikirkan nasib anak-anak Laskar Pelangi yang bisa jadi hanya secuil dari potret buram suramnya pendidikan negeri kita.

Edensor, novel ketiga Andrea menjadi khas karena settingnya berbeda dari dua novel sebelumnya. Buku ini justru menjadi buku pertama yang saya baca diantara ketiganya. Membaca Edensor membawa imajinasi saya melayang dengan sukses ke setiap fragmen perjalanan Ikal dan Arai menjelajahi Eropa hingga Afrika Utara. Detail-detail fragmen itu masih tersimpan dengan mengesankan, seperti bagian puisi cinta Arai pada Zakiah Nurmala yang terasa amat putus asa namun jenaka didepan pusara Jim Morrison:

“… Rampas jiwaku… Mengapa tidak kunjung juga kau terima cintaku…”

atau saat di daerah Yugoslavia nyawa mereka nyaris melayang, namun kemudian seorang pembasmi serangga menyelamatkan mereka, yang ternyata seorang migran dari tanah Jawa era pembantaian komunis tahun ’65-an. Buku ini menggugah mimpi-mimpi saya tentang hidup dan pencapaian tujuan betapapun harga yang harus dibayarkan.

Ada kumpulan kisah yang membuat hanyut dan terenyuh, kumpulan kisah dari Asma Nadia berjudul ‘Catatan Hati Seorang Istri’. Buku ini khas dan membawa kita menyelami begitu dalamnya ruang hati seorang wanita, sehingga mampu menjadi begitu tegar menjalani rumah tangga yang carut marut, menghadapi kekejaman seorang suami tetapi tetap menyimpan senyum terindah bagi anaknya, membentangkan keikhlasan saat ditinggal wafat suaminya atau kesabaran dalam menghadapi rangkaian kejadian suram yang ia alami dalam hidupnya. Memang, disatu sisi buku ini memiliki satu kekurangan, yaitu mengangkat potret kehidupan rumah tangga hanya dari sudut yang selalu suram. Namun itu terkompensasi dengan gaya Asma Nadia dalam membungkusnya dalam cerita yang mengalir, menghanyutkan emosi namun terkadang secara usil juga menyelipkan canda ringan dibagian-bagian tertentu (contohnya saat ia dalam hati ingin meninju lawan bicaranya saat berbincang tentang poligami).
Selain buku-buku tersebut mungkin masih banyak lagi buku yang memberi pengaruh pada hidup saya. Masih ada buku MHMMD dari Marwah Daud Ibrahim, masih ada Sheila-nya Torrey Hayden, Quantum Learning, sejarah Pergerakan Mahasiswa 1974 dari Rum Aly, hingga komik Naruto ~yang menurut saya, penulisnya begitu brilian menggambarkan kondisi sosio-kultur dalam komik tersebut~ dan masih banyak yang lainnya. Bagaimanapun, parameter bacaan yang menggugah dan inspiratif mungkin dapat amat berbeda-beda bagi tiap orang. Namun satu hal yang pasti, tulisan-tulisan inspiratif tersebut tidak cukup hanya bermodalkan bahasa yang mengharu-biru, tetapi juga ~yang jauh lebih penting~ muatan yang benar-benar unik dan mampu memperkaya khazanah pemikiran dan imajinasi pembacanya. Suatu saat saya berharap dapat menjadi penulis seperti mereka semua yang saya sebutkan diatas. Itu menjadi cita-cita yang masih butuh proses yang amat panjang dalam mewujudkannya.

Notes: Tulisan ini dipublikasikan di Personal Blog penulis pada tanggal 1 Desember 2008. Penulis adalah seorang blogger, yang masih berstatus mahasiswa, berdomisili di Bandung.

bookmark tulisan ini :
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Live
  • Slashdot
  • Technorati
  • Twitter
Vote artikelnya 3.00 out of 5
[Pilih]

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Penulis : ardian URL: http://ardee.cmsku.org
Ardian Perdana Putra, pria kelahiran Kampoeng Melayu, 28 Januari 1983.Saat ini selain berkecimpung merintis usahanya dibawah bendera Ganesha Indomedia.Untuk korespondensi langsung bisa menghubungi 02292456409 / 085624878208, dan YM: delcardino

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*

Anti-spam image