Obama Seeks War Money and Close Six Hospitals
April 28 | Posted by Muhammad Yusuf E. | OpiniJudul ini aku temukan dalam salah satu tulisan di koran gratisan di pinggir jalan San Francisco. Nama koran cukup terkenal bagi orang-orang yang hidup di pusat kota San Francisco, yaitu The Examiner San Francisco. Di halaman 14, tertulisan artikel tentang Presiden Obama yang mencari tambahan uang untuk menjalankan perang, di sisi lain ada artikel dengan judul “…close six hospitals”. Enam rumah sakit ditutup karena kekurangan dana operasional. Terasa aneh memang, kondisi perekonomian Amerika yang sedang carut marut, masih saja presiden terbaik Amerika ini mancari solusi dengan mengutamakan jalan peperang.
Wajah bijaksana dan kepala yang smart ketika kampanye beberapa bulan lalu, seakan sulit untuk memahami sepak terjang sang Presiden. Pidato kemenangan sang Presiden yang melelehkan air mata pendukungnya karena rindu akan perdamaian dan persahabatan seakan terusik dengan langkah-langkah sang Presiden yang sulit untuk dipahami. Memang dia lebih baik dari pendahulunya, akan tetapi tidak sebaik yang disangka pendukungnya.
Permintaannya kepada konggres baru-baru ini tentang tambahan dana 83.4 milyar dollar US untuk membiayai perang di Irak dan Afganistan, semakin menunjukkan bahwa perang masih jauh dari kata selesai. Teringat 2 tahun lalu, ketika mantan Presiden George W.Bush melancarkan dua perang ini, salah satu senator yang menentang perang ini mati-matian adalah Barack Obama. Sekarang dia berdiri menggantikan pendahulunya, akan tetapi dengan sikap yang sama, meminta bantuan dana bagi proyek yang namanya perang. Kalau dana ini dikabulkan, maka dana perang Amerika yang telah dikeluarkan sudah hampir mendekati angka 1 trilun dollar US semenjak peristiwa 11 September 2001.
Obama pun meminta kepada konggres Amerika untuk mengabulkan 350 milyar US untuk melakukan proyek pengamanan perbatasan Meksiko yang sering dipakai untuk penyelundupkan manusia dan obat-obatan terlarang.
Dalam surat resminya yang ditujukan kepada konggres Amerika, Obama menulis, “Nearly 95 percent of these funds wil be used to support out men and women in uniform as they help the people of Iraq to take responsibility for their own future – and work to disrupt, dismantle and defeat al-Qaida in Pakistan and Afganistan”. Ada kata-kata yang menggelitik penulis, yaitu kata Al-Qaida. Kata-kata ini tidak muncul di dalam pidato kemenangan Obama, dan itu membuat suatu yang cukup melegakan hati penulis saat itu. Tidak ada kata-kata teroris, ekstrimis, apalagi kata-kata Al-Qaida yang sering diucapkan oleh pendahulunya.
Dalam kondisi perekonomian yang payah sekarang ini, pendanaan 140 ribu pasukan di Iraq dan 39 ribu pasukan di Afganistan memang pekerjaan yang tidak ringan bagi bangsa Amerika. Kejahatan yang meningkat karena krisis ekonomi, ditutupnya rumah sakit-rumah sakit karena kekurangan modal, hancurnya industri-industri besar, rontoknya perbangkan dan pasar modal menandakan kalau bangsa Amerika sedang dalam kesulitan besar. Akan tetapi sang Presiden tidak bergeming dari sikapnya tentang perang. Bukankah pelajaran-pelajaran pendahulunya merupakan modal yang sangat cukup ?
Baru-baru ini muncul di media surat kabar Texas, kalimat-kalimat yang muncul dari sang Gubernur Texas akan ketidak puasan dengan pungutan pajak Federal yang semain besar dan membebani propinsi Texas. Terlihat sekali Federal memakai pajak-pajak rakyatnya untuk mendanai perusahaan-perusahaan besar agar terhindar dari kebangkrutan. Pendanaan ini semakin menyakitkan bagi bangsa Amerika, ketika terungkap bahwa sebagian dana ini digunakan untuk membiayai pemberian bonus bagi pejabat-pejabat elit. Bagaimana mungkin, perusahaan yang dinyatakan bangkrut, kemudian menggunakan dana bantuan dari pajak rakyatnya untuk memberikan bonus bagi pejabat elitnya yang gagal ? Sulit dicerna dengan akal sehat, tapi hal itu terjadi di negara besar yang menjunjung HAM dan Demokrasi ini.
Bagi Obama, waktu untuk merubah Amerika masih banyak dia miliki. Mampukah sang Presiden merubah negara ini menjadi negara rujukan dunia ? Salah satu jalannya barangkali adalah menghentikan peperangan brutal ini dengan cara yang lebih arif dan bijaksana.


